Sabtu, 06 Juli 2013

Terungkap, Rahasia Kemampuan Paus Tahan Nafas di Laut



Selama ini banyak ahli biologi kelautan yang bingung dengan kemampuan mamalia laut, paus dan lumba-lumba, menahan nafas di dalam air hingga mencapai satu jam.

Tapi, sebuah studi baru mengungkapkan bahwa rahasia dari kemampuan manahan nafas paus dan lumba-lumba itu terdapat di dalam darahnya.

Menurut Science Recorder, 17 Juni 2013, enam peneliti bilogi kelautan dari Universities of Liverpool, Winnipeg, dan Alaska, menemukan darah dari mamalia laut itu mengandung protein (hemoglobin) yang sangat efektif dalam menyimpan oksigen.

Menurut Michael Berenbrink, peneliti dari Universitas Liverpool, hemoglobin dalam aliran darah mamalia cenderung menggumpal. Uniknya, hemoglobin tersebut berbentuk muatan positif yang dapat menyatu dengan molekul lainnya di dalam tubuh.

"Hemoglobin mamalia laut sangat berperan penting untuk menjaga oksigen tetap di dalam darah dalam waktu yang lama," kata Berenbrink.


Selain itu, Berenbrink menjelaskan, berbeda dengan manusia yang memiliki banyak pembuluh darah, mamalia hanya memiliki sedikit pemburuh darah.

"Banyaknya pembuluh darah juga berpengaruh terhadap kelancaran aliran hemoglobin yang mengandung oksigen. Dengan sedikitnya pembuluh darah, maka oksigen dapat mengalir lancar tanpa tersumbat oleh pembuluh darah," jelas Berenbrink.

Inovasi Medis
Penemuan terbaru ini memunculkan inovasi baru untuk dunia medis manusia. Hemoglobin mamalia laut yang memiliki kandungan oksigen yang besar dapat digunakan untuk pengobatan manusia.

Ketua tim peneliti, Scott Mirceta, mengatakan, hemoglobin yang memiliki kandungan oksigen yang besar dapat disuntikkan ke manusia yang menderita luka parah.

"Oksigen diperlukan untuk menjaga jaringan manusia agar tetap hidup. Tindakan ini sangat dibutuhkan ketika tranfusi darah tidak dapat dilakukan," kata Scott Mirceta.

Seperti diketahui, tranfusi darah antar manusia memiliki banyak kendala. Mulai dari mahalnya harga darah, pasokan darah yang sedikit, dan potensi efek sampingnya.

"Temuan terbaru ini bisa menjadi alternatif pengobatan pada manusia. Para peneliti perlu mengeksplorasinya lagi untuk kemajuan duni medis di masa depan," ujar Mirceta.

Source : www.viva.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar